Menyia-nyiakan
Waktu Lebih Berbahaya dari Kematian
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ جَعَلَ فِي العُمْرِ
فُسْحَةٍ، وَفِي الْحَيَاةِ مُهْلَةٍ، أَحْمَدُهُ – سُبْحَانَهُ – وَأَشْكُرُهُ
عَلَى كُلِّ نِعْمَةٍ وَقُرْبَةٍ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ
لَا شَرِيْكَ لَهُ جَمَعَ قُلُوْبَ المُؤْمِنِيْنَ عَلَى الْمَحَبَّةِ
وَالأُلْفَةِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ خَيْرُ قُدْوَةٍ وَأُسْوَةٍ، اَللّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ
وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بْنِ عَبْدِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَّالَاهُ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ
الْقِيَامَةِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ
.أَمَّا بَعْدُ
:فَأُصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهَ.
Setiap
Muslim pasti menginginkan untuk meraih keselamatan dan kebahagiaan di dunia
maupun akhirat. Karena itu, salah satu caranya adalah memanfaatkan waktu dengan
sebaik-baiknya. Setiap muslim harus benar-benar memanfaatkan waktu yang
diberikan Allah untuk berbuat kebaikan. Sebab, waktu tidak akan bisa terulang
kembali walau sesaatpun. Mereka yang lalai dalam hidupnya pasti akan mengalami
kerugian yang diliputi penyesalan besar terutama kelak di yaumil kiamah. Sebagaimana
Allah SWT telah mengingatkan kita dalam QS. Al Ashr:
وَالْعَصْرِۙ اِنَّ
الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ
وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi
masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati
supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran. (QS.
Al Ashr:1-3)
Waktu sangatlah berharga. Begitu berharganya
waktu, menyia-nyiakannya adalah bentuk puncak kerugian, bahkan lebih berbahaya
dari kematian. Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata:
إضاعةُ الوقت أشدُّ من الموت ؛ لأنَّ
إضاعة الوقت تقطعك عن الله والدار الآخرة، والموتُ يقطعك عن الدنيا وأهلها
“Menyia-nyiakan waktu lebih berbahaya dari
kematian, karena menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu dari Allah dan negeri
akhirat, sedangkan kematian hanya memutuskan dirimu dari dunia dan
penduduknya”. [Al-Fawaid hal 44]
Ketika Allah bersumpah dengan salah satu
makhluk-Nya dalam Al-Quran, hal ini menunjukkan bahwa makhluk tersebut memiliki
keistimewaan. Allah bersumpah dengan waktu dalam Al-Quran dalam beberapa ayat.
Misalnya “wal-ashri” (demi masa), “wad-dhuha” (demi waktu dhuha), “wal-lail”
(demi waktu malam) dan lain-lainnya. Waktu memang sangat berharga dan harus
dipergunakan dengan sebaik mungkin untuk hal-hal yang bermanfaat. Manusia pun
sepakat bahwa waktu itu berharga. Pepatah Arab menyebutkan waku itu penting:
اَلْوَقْتُ أَنْفَاسٌ لَا تَعُوْدُ
“Waktu adalah nafas yang tidak mungkin akan
kembali.”
Orang sukses dunia-akhirat akan sangat menyesal
jika waktunya terbuang percuma tanpa manfaat dan faidah. Ibnu Mas’ud
radhiallahu ‘anhu berkata,
ﻣَﺎ ﻧَﺪِﻣْﺖُ ﻋَﻠَﻰ ﺷَﻲْﺀٍ ﻧَﺪَﻣِﻲ
ﻋَﻠَﻰ ﻳَﻮْﻡٍ ﻏَﺮَﺑَﺖْ ﴰَﺴْﻪُ ﻧَﻘَﺺَ ﻓِﻴْﻪِ ﺃَﺟَﻠِﻲ ﻭَﱂَ ْﻳَﺰِﺩْ ﻓِﻴْﻪِ ﻋَﻤَﻠِﻲ
“Tiada yang pernah kusesali selain keadaan
ketika matahari tenggelam, ajalku berkurang, namun amalanku tidak bertambah.”
(Lihat Miftahul Afkar)
Mereka juga pelit dengan waktu mereka, Hasan
Al-Bashri rahimahullah berkata,
أَدْرَكْتُ أَقْوَامًا كَانَ
أَحَدُهُمْ أَشَحَّ عَلَى عُمْرِهِ مِنْهُ عَلَى دِرْهَمِهِ
“Aku menjumpai beberapa kaum, salah satu dari
mereka lebih pelit terhadap umurnya (waktunya) dari pada dirham (harta) mereka”
(Al-‘Umru was Syaib no. 85)
Perhatikan perkataan emas yang dinukil oleh
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah:
وَنَفْسُكَ إِنْ أَشْغَلَتْهَا
بِالحَقِّ وَإِلاَّ اشْتَغَلَتْكَ بِالبَاطِلِ
“Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal
yang baik, PASTI akan disibukkan dengan hal-hal yang batil” (Al Jawabul Kaafi
hal 156)
Ini adalah kaidah dalam kehidupan. Apabila
waktu kita tidak diisi dengan kegiatan positif, pasti diisi oleh kegiatan
negatif. Paling minimal diisi dengan hal yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Oleh
karena itu, hendaklah membuat program, rencana serta target hidup ke depan agar
hari-hari kita selalu terisi oleh hal-hal dan kegiatan yang positif dan
bermanfaat. Hendaknya kita perhatikan dan kita atur dengan baik, waktu dan umur
yang telah Allah berikan kepada kita. Mayoritas manusia banyak lalai dan
menyia-nyiakan waktu.
Dunia adalah sawah ladang akhirat. Jika engkau
menanam kebaikan di dunia ini, maka engkau akan memetik kenikmatan abadi di
akhirat nanti. Jika engkau menanam keburukan di dunia ini, maka engkau akan
memetik siksaan pedih di akhirat nanti.
Namun demikian, ini bukan berarti manusia tidak
boleh bersenang-senang dengan perkara yang Allâh ijinkan di dunia ini, karena
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ
لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ
وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي
Demi Allâh, sesungguhnya aku adalah orang yang
paling takut dan paling takwa di antara kamu kepada Allâh, tetapi aku berpuasa
dan berbuka, shalat (malam) dan tidur, dan aku menikahi wanita-wanita.
Barangsiapa membenci sunnahku, maka ia bukan dariku. [HR al-Bukhari, no. 4776;
Muslim, no. 1401]
Banyak orang mengetahui nilai dan urgensi
waktu, dan mengetahui perkara-perkara bermanfaat yang seharusnya dilakukan
untuk mengisi waktu, tetapi karena lemahnya kehendak dan tekad, mereka tidak
melakukannya. Maka seorang muslim wajib mengobati perkara ini dan bersegera
serta berlomba melaksanakan amalan-amalan shalih, serta memohon pertolongan
kepada Allâh Ta’ala, kemudian bergabung dengan kawan-kawan yang shalih.
Jika kita benar-benar mengerti tujuan hidup,
dan kita benar-benar memahami nilai waktu, maka seharusnya kita isi waktu kita
dengan perkara yang akan menjadikan ridha Penguasa kita, Allâh Subhanahu wa
Ta’ala . Semoga Allâh selalu membimbing kita di atas jalan yang lurus dan jalan
yang di ridhai-Nya.
أَقُوْلُ مَا تَسْمَعُوْنَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ
لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ