Mengambil Hikmah dari musibah Aceh dan Sumatra
اَلْحَمْدُ
للهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِإِدْخَالِ السُرُوْرِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا
اللهُ النُّوْرُ الصَّبُوْرُ. وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ بِحُسْنِ الْأَخْلَاقِ الْمشْهُوْرُ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ
وَاَصْحَابِهِ ومن تبعهم بإحسان الى يوم النشور. اَمَّا بَعْدُ, فَيَاأَيُّهَا
الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا
وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Beberapa pekan yang lalu, Negara kita berduka karena
kembali terguncang oleh musibah yang menimpa saudara-saudara kita di Aceh dan Sumatera.
Gempa bumi, longsor, banjir bandang—semuanya datang silih berganti. Di tengah
duka mendalam akibat banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Aceh dan Sumatera,
umat Islam diimbau untuk menjadikan musibah ini sebagai momentum muhasabah
diri. Musibah merupakan bentuk teguran Allah kepada kaum mukmin atas kekeliruan
dan dosa-dosa yang kita lakukan.
Kita
melihat saudara-saudara kita kehilangan tempat tinggal, harta benda, bahkan
orang-orang tercinta. Mereka yang hidup pun kini harus bertahan dalam kondisi
sulit, serba terbatas, dan penuh ketidakpastian. Berdasarkan data resmi dari
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada hari Kamis, 11 Desember 2025 pukul
19.45 WIB, tercatat korban meninggal dunia 990 jiwa, 225 orang masih dalam
pencarian, 5,1 ribu orang mengalami luka-luka, dan 833,9 ribu warga masih
mengungsi. Selanjutnya, 52 kabupaten/kota terdampak dengan banyak kerusakan
pada fasilitas, diantaranya 1,2 ribu unit fasilitas umum, 219 unit fasilitas
kesehatan, 581 unit fasilitas pendidikan, 290 unit gedung/kantor, 434 unit
rumah ibadah, 498 unit jembatan, dan 157,9 ribu unit rumah.
Sesungguhnya ini adalah bencana yang sangat
besar. Banjir dan longsor ini menyerang banyak daerah, banyak keluarga yang
tertimpa, ini semua di luar perhitungan manusia; satu hal yang mengingatkan
kita bahwa musibah bisa menimpa siapa saja dan kapan saja. “Inna lillahi wa
inna ilaihi raji’un.” Segala sesuatu berasal dari Allah, dan kepada-Nya kita
kembali…
Tetapi
sebagai seorang mukmin kita tidak bisa berhenti hanya pada ucapan belasungkawa
dan kesedihan. Kita harus merenung, mengambil pelajaran, dan bangkit
dengan sikap yang benar setelah semua bencana yang mengerikan ini terjadi. Karena
itu Allah mengingatkan dalam QS. Al-Isra’ayat 59:
وَمَا
نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا
“Tidaklah
Kami mengirimkan tanda-tanda (adzab, bencana, peristiwa besar) melainkan untuk
menimbulkan rasa takut (agar manusia kembali kepada Allah).”
Kita patut mengambil pelajaran dan kembali
kepada petunjuk Allah, dan menyadari makna musibah ini seraya memperbaiki kekeliruan
diri kita. Kita harus menyadari bahwa setiap bencana tidaklah datang secara
tiba-tiba tetapi ada sebab-sebabnya, dan sebab yang paling utama dari
terjadinya setiap bencana adalah dosa dan kekeliruan manusia sendiri. Allah SWT
telah mengingatkan hal itu dalam Firman-Nya:
ظَهَرَ
الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ
لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
“Telah
tampak kerusakan di darat dan lautan disebabkan apa yang diperbuat oleh
tangan-tangan manusia. (Itu semua terjadi) agar Allah membuat mereka merasakan
sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang
benar).” (QS. Al-Rum: 41).
Hakikat kehidupan manusia adalah menjalani
takdir Allah. Berserah diri dan menerima ketentuan-Nya dengan lapang dada
adalah sikap terbaik dalam menghadapi musibah. Setiap orang beriman dituntut
melakukan istirja’, yaitu mengakui bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan
akan kembali kepada-Nya.
Melalui musibah dan bencana ini, seharusnya
kita semakin menyadari: betapa cepatnya kenikmatan dan keamanan yang kita
rasakan bisa hilang dalam hitungan detik; rumah bisa porak-poranda, harta
lenyap, kehidupan berubah. Betapa ternyata kita sangat bergantung pada rahmat
Allah: udara, hujan yang sedang, tanah yang stabil, lingkungan yang lestari;
semua itu selalu dalam genggaman-Nya. Bahwa bencana besar ini bukan
sekadar “kecelakaan alam”, melainkan panggilan untuk introspeksi: atas diri
sendiri, keluarga, masyarakat, dan bangsa: apakah kita sudah berperilaku
sebagai seorang hamba yang tunduk kepada Allah di atas muka bumi ini?
Bahwa kaum muslimin sejati harus tampil: bukan
hanya dengan belasungkawa di media sosial, tetapi dengan tindakan nyata:
simpati, tolong-menolong, donasi, tenaga, doa, dakwah, dan memperbaiki akhlak
serta lingkungan. Rasulullah SAW bersabda:
وَاللهُ
فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِيْ عَوْنِ أَخِيْهِ (رواه مسلم)
“Allah akan menolong seorang hamba selama hamba
tersebut menolong saudaranya.”
Oleh karena itu diakhir khutbah ini, marilah
kita memperbanyak istighfar, memohon ampun atas dosa-dosa yang kita sadari
maupun yang tidak kita sadari, dan memohon agar Allah melindungi kita, dan
menjadikan bencana ini sebagai rahmat, bukan sebagai azab yang terus menimpa.
بَارَكَ
اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا
فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا
وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ.