KHADIJAH MEMANG WANITA ISTIMEWA

 

 

KHADIJAH MEMANG WANITA ISTIMEWA

 

DUA PERTIGA (2/3) wilayah Makkah adalah milik Siti Khadijah binti khuwailid, istri pertama Rasulullah . Ia wanita bangsawan yang menyandang kemulia'an dan kelimpahan harta kekaya'an. Namun ketika wafat, tak selembar kafan pun dia miliki. Bahkan baju yang dikenakannya di sa'at menjelang ajal adalah pakaian kumuh dengan 83 tambalan.
"Fatimah putriku, aku yakin ajalku segera tiba," bisik Khadijah kepada Fatimah sesa'at menjelang ajal. "Yang kutakutkan adalah siksa kubur. Tolong mintakan kepada ayahmu, agar beliau memberikan sorbannya yang biasa digunakan menerima wahyu untuk dijadikan kain kafanku. Aku malu dan takut memintanya sendiri."

Mendengar itu Rasulullah berkata, "Wahai Khadijah, Allah menitipkan salam kepadamu, dan telah dipersiapkan tempatmu di syurga." Siti Khadijah, Ummul Mu’minin (ibu kaum mukmin), pun kemudian menghembuskan nafas terakhirnya dipangkuan Rasulullah. Didekapnya sang istri itu dengan perasa'an pilu yang teramat sangat. Tumpahlah air mata Mulia Rasulullah dan semua orang yang ada di situ.

Dalam suasana seperti itu, Malaikat Jibril turun dari langit dengan mengucap salam dan membawa lima kain kafan. Rasulullah menjawab salam Jibril, kemudian bertanya, "Untuk siapa sajakah kain kafan itu, ya Jibril?" "Kafan ini untuk Khadijah, untuk engkau ya Rasulullah, untuk Fatimah, Ali dan Hasan," jawab Jibril yang tiba-tiba berhenti berkata, kemudian menangis.
Rasulullah bertanya, "Kenapa, ya Jibril?" "Cucumu yang satu, Husain, tidak memiliki kafan. Dia akan dibantai, tergeletak tanpa kafan dan tak dimandikan," jawab Jibril.

Rasulullah berkata di dekat jasad Khadijah, "Wahai Khadijah istriku sayang, demi Allah, aku tak kan pernah mendapatkan istri sepertimu. Pengabdianmu kepada Islam dan diriku sungguh luar biasa. Allah Mahamengetahui semua amalanmu. Semua hartamu kau hibahkan untuk Islam. Kaum Muslimin pun ikut menikmatinya. Semua pakaian kaum Muslimin dan pakaianku ini juga darimu. Namun begitu, mengapa permohonan terakhirmu kepadaku hanyalah selembar sorban!?" Tersedu Rasulullah mengenang istrinya semasa hidup Khadijah.

Dikisahkan, suatu hari, ketika Rasulullah pulang dari berdakwah, beliau masuk ke dalam rumah. Khadijah menyambut, dan hendak berdiri di depan pintu, kemudian Rasulullah bersabda, "Wahai Khadijah, tetaplah kamu di tempatmu." Ketika itu Khadijah sedang menyusui Fatimah yang masih bayi. Sa'at itu seluruh kekaya'an mereka telah habis. Seringkali makanan pun tak punya, sehingga ketika Fatimah menyusu, bukan air susu yang keluar akan tetapi darah. Darahlah yang masuk dalam mulut Fatimah r.a.

Kemudian Rasulullah mengambil Fatimah dari gendongan istrinya, dan diletakkan di tempat tidur. Rasulullah yang lelah sepulang berdakwah dan menghadapi segala caci-maki serta fitnah manusia itu, lalu berbaring di pangkuan Khadijah hingga tertidur. Ketika itulah Khadijah membelai kepala Rasulullah dengan penuh kelembutan dan rasa sayang. Tak terasa air mata Khadijah menetes di pipi Rasulullah hingga membuat beliau terjaga. "Wahai Khadijah, mengapa engkau menangis? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku?" tanya Rasulullah dengan lembut.

Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan. Namun hari ini engkau telah dihina orang. Semua orang telah menjauhi dirimu. Seluruh kekaya'anmu habis. Adakah engkau menyesal, wahai Khadijah, bersuamikan aku ?" lanjut Rasulullah tak kuasa melihat istrinya menangis. "Wahai suamiku, wahai Nabi Allah. Bukan itu yang kutangiskan," jawab Khadijah.

"Dahulu aku memiliki kemulia'an, Kemulia'an itu telah aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Dahulu aku adalah bangsawan, Kebangsawanan itu juga aku serahkan untuk Allah dan Rasu-lNya. Dahulu aku memiliki harta kekaya'an, Seluruh kekaya'an itupun telah aku serahkan untuk Allah dan Rasul-Nya."

"Wahai Rasulullah, sekarang aku tak punya apa-apa lagi. Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini. Wahai Rasulullah, sekiranya nanti aku mati sedangkan perjuanganmu belum selesai, sekiranya engkau hendak menyeberangi sebuah lautan, sekiranya engkau hendak menyeberangi sungai namun engkau tidak memperoleh rakit atau pun jembatan, maka galilah lubang kuburku, ambillah tulang-belulangku, jadikanlah sebagai jembatan bagimu untuk menyeberangi sungai itu supaya engkau bisa berjumpa dengan manusia dan melanjutkan dakwahmu."

"Ingatkan mereka tentang kebesaran Allah, Ingatkan mereka kepada yang hak, Ajak mereka kepada Islam, wahai Rasulullah." Rasulullah pun tampak sedih. "Oh Khadijahku sayang, kau meninggalkanku sendirian dalam perjuanganku. Siapa lagi yang akan membantuku?" "Aku, ya Rasulullah!" sahut Ali bin Abi Thalib. jawab, menantu Rasullulah. Di samping jasad Siti Khadijah, Rasulullah kemudian berdo'a kepada Allah. "Ya Allah, ya ILahi Rabbiy, limpahkanlah rahmat-Mu kepada Khadijahku, yang selalu membantuku dalam menegakkan Islam, Mempercayaiku pada sa'at orang lain menentangku, Menyenangkanku pada saat orang lain menyusahkanku, Menenteramkanku pada sa'at orang lain membuatku gelisah."

 

Pemenang Anugerah GTK Madrasah 2024

 

 

 

Kemenag Umumkan Pemenang Anugerah GTK Madrasah 2024, Yuk Lihat Daftarnya!


Dirjen Pendidikan Islam Abu Rokhmad

Dirjen Pendidikan Islam Abu Rokhmad

Jakarta (Kemenag) --- Kementerian Agama (Kemenag) memberikan Anugerah Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah 2024.

Pemberian anugerah ini dilakukan dalam rangka perayaan Hari Guru Nasional (HGN) yang jatuh pada 25 November 2024. Anugerah ini merupakan apresiasi atas dedikasi luar biasa insan pendidik madrasah di seluruh Indonesia.

Para pemenang dipilih melalui seleksi ketat yang mempertimbangkan inovasi, dedikasi, dan kontribusi mereka dalam membangun pendidikan Islam berkualitas.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Abu Rokhmad menyebut bahwa penghargaan ini merupakan momentum untuk merayakan dedikasi guru madrasah yang menjadi ujung tombak pendidikan karakter bangsa. “Tema Hari Guru Nasional tahun ini, Guru Berdaya, Indonesia Jaya, selaras dengan komitmen Kementerian Agama untuk terus mendukung guru madrasah agar berdaya dalam inovasi, teknologi, dan pengembangan diri,” ujar Dirjen di Jakarta pada Selasa (26/11/2024).

“Guru-guru ini tidak hanya mencerdaskan anak bangsa tetapi juga membentuk generasi berakhlak mulia yang siap menyongsong masa depan,” lanjutnya.

Ia menambahkan bahwa kolaborasi dan inovasi guru madrasah merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem pendidikan berbasis nilai-nilai keislaman. “Anugerah ini bukan hanya penghormatan, tetapi juga motivasi bagi guru lain untuk terus berkontribusi secara maksimal. Ketika guru berdaya, Indonesia pasti berjaya,” tegasnya.

Direktur GTK Madrasah, Thobib Al Asyhar, juga menekankan pentingnya apresiasi ini sebagai pengakuan terhadap kerja keras para pendidik. “Penghargaan ini dirancang untuk menumbuhkan semangat kompetisi sehat dan inovasi di kalangan guru madrasah. Kami percaya bahwa setiap guru yang diberdayakan akan mampu melahirkan generasi pembelajar yang tangguh,” ucap Thobib.

Ia berharap acara ini menjadi inspirasi bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan untuk memberikan perhatian lebih kepada tenaga pendidik. “Guru madrasah adalah pilar penting dalam membangun masyarakat yang maju dan beradab. Mari kita terus mendukung mereka dengan penghargaan, pelatihan, dan fasilitas yang memadai,” tutupnya.

Berikut daftar pemenang Anugerah GTK Madrasah 2024:
1. Vini Firliani – Guru RA Inspiratif, RA Al Fitrah, Aceh Tengah, Aceh.
2. Rustam – Guru MI Inspiratif, MIN Kota Bukittinggi, Sumatera Barat.
3. Suharto – Guru MTs Inspiratif, MTsN 5 Jakarta, Jakarta Utara, DKI Jakarta.
4. Ahmad Zubaidi Amrullah – Guru MA Inspiratif, MAN 2 Gresik, Jawa Timur.
5. Nuryanti – Guru RA Inovatif, RA Istiqlal, Jakarta Pusat, DKI Jakarta.

6. Tolkah – Guru MI Inovatif, MI Al Islam Balesari, Magelang, Jawa Tengah.
7. Miftahul Khoir – Guru MTs Inovatif, MTs Al Hidayah, Tabanan, Bali.
8. Lita Luciana – Guru MA Inovatif, MAN 1 Bangka, Bangka Belitung.
9. Hudenah – Guru RA Berdedikasi, RA Ceding Ayu, Aceh Tengah, Aceh.
10. Khoirul Anwar – Guru MI Berdedikasi, MIN 3 Gunungkidul, DI Yogyakarta.

11. Minarsih – Guru MTs Berdedikasi, MTsS Persiapan Negeri Keerom, Papua.
12. Bahrudin Saiidi – Guru MA Berdedikasi, MAN 1 Halmahera Selatan, Maluku Utara.
13. Puput Yulianti – Kepala RA Berprestasi, RA Irbah Golden Age, Surabaya, Jawa Timur.
14. Iman Nurjaman – Kepala MI Berprestasi, MIS Ababil Jannah, Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau.
15. Subhan Walad – Kepala MTs Berprestasi, MTsN 3 Paser, Kalimantan Timur.

16. Salbiah – Kepala MA Berprestasi, MAN 1 Mandailing Natal, Sumatera Utara.
17. Achmad Nasihi MT – Pengawas Madrasah Berprestasi, Kemenag Jakarta Selatan, DKI Jakarta.
18. Nuraini Kusuma Wardhani – Tenaga Laboran Madrasah Berprestasi, Madrasah Madani Alauddin, Gowa, Sulawesi Selatan.
19. Dianita Rohmatin Setyani – Tenaga Pustakawan Madrasah Berprestasi, MAN 1 Mojokerto, Jawa Timur.

Cermin Akhlak Mulia, Hindari Banyak Bicara

 

 

Cermin Akhlak Mulia, Hindari Banyak Bicara

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَام أَمَّا بَعْدُ: فَيَاأَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ, اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Pada kesempatan kali ini, khatib jmengajak kepada jamaah Jumat untuk senantiasa mengingat apa yang sering disampaikan bilal sebelum khatib naik mimbar melalui sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ أَنْصِتْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ

Artinya: “Apabila kamu berkata kepada temanmu “diamlah” pada hari Jumat, sementara imam sedang berkhutbah, maka engkau telah berbuat tiada guna.” [HR al-Bukhari]

Melalui hadits ini, kita diingatkan untuk menjadi pribadi yang bisa menjaga diri untuk tidak banyak berbicara dan memahami situasi dan kondisi di mana, kapan, dan dengan siapa kita berbicara. Hal ini penting kita ingat dan aplikasikan bukan hanya pada saat khatib sedang menyampaikan khutbah saja, namun juga dalam aktivitas interaksi dengan orang lain dalam kehidupan kita sehari-hari.

Kecenderungan manusia memang suka didengarkan daripada mendengarkan. Kita bisa amati bersama dalam sebuah forum bisa dipastikan ada saja orang yang mendominasi pembicaraan dan tidak mau mengalah dengan pendapatnya. Ketika menanggapi pembicaraan orang lain, ia pun cenderung mengedepankan ke-aku-annya dengan menonjolkan diri dengan apa yang dimilikinya. Banyak orang yang dalam sebuah forum masih saja tidak memahami orang lain. Sebaliknya, ia selalu ingin dipahami oleh orang yang diajak berbicara.

Tentu ini manusiawi. Namun jika kadarnya terlalu sering malah akan menjadikan kontraproduktif dan mengakibatkan dampak negatif dalam interaksi dan komunikasi. Jika komunikasi tidak berimbang dan tidak berlangsung dengan baik, maka orang lain akan bosan dan tidak menanggapi apa yang sedang dibicarakan. Imam al-Lu’lui mengatakan dalam syair Adabut Thalab:

وَفِي كَثِيْرِ الْقَوْلِ بَعْضُ الْمَقْتِ

Artinya: “Dalam banyaknya bicara dapat menimbulkan sebagian kebencian.”

Sehingga, di sinilah pentingnya keseimbangan dalam berbicara. Ada kalanya kita berbicara, namun ada kalanya kita mendengarkan. Kita perlu renungkan bahwa Allah swt menciptakan telinga lebih banyak dari mulut. Allah memberi karunia dua telinga di bagian kepala sebelah kiri dan kanan. Sementara mulut diciptakan oleh Allah swt satu buah. Hal ini sebenarnya memiliki hikmah yang mendalam bahwa kita diingatkan untuk lebih banyak mendengar daripada banyak berbicara. 

Saat berbicara pun, kita harus memperhatikan dengan siapa kita berbicara. Kita harus bisa memahami gerak-gerik, karakter, tingkat pemahaman dari orang yang diajak berbicara dan mengedepankan akhlakul karimah, tidak sombong dan tidak membangga-banggakan diri. Kita juga diingatkan untuk selalu introspeksi terhadap kekurangan diri dan menanggalkan sikap senang mengoreksi kekurangan-kekurangan orang lain.

Dalam kitab Shifat al-Shafwah, Imam Ibnu Jauzi mencatat sebuah riwayat tentang Imam Bakr bin Abdullah al-Muzani yang menyampaikan 4 pesan mendalam: 

  1. Ketika kamu melihat orang yang lebih tua darimu, katakanlah pada dirimu sendiri: ‘Orang ini telah mendahuluiku dengan iman dan amal saleh maka dia lebih baik dariku.’
  2. Ketika kau melihat orang yang lebih muda darimu, katakanlah: ‘Aku telah mendahuluinya melakukan dosa dan maksiat, maka dia lebih baik dariku.’
  3. Ketika kau melihat teman-temanmu memuliakan dan menghormatimu, katakanlah: ‘Ini karena kualitas kebajikan yang mereka miliki.’
  4. Ketika kau melihat mereka kurang (memuliakanmu), katakan: ‘Ini karena dosa yang telah kulakukan.”

Dari riwayat ini kita diajarkan untuk introspeksi dan menilai diri sendiri sebelum menilai orang lain. Bisa jadi yang menilai tidak lebih baik dari yang dinilai. Kita diajarkan untuk berbaik sangka (husnudzan) sebagai jalan pembuka pendewasaan spiritual dan menghadirkan pahala dari Allah swt.

Terkait dengan komunikasi Rasulullah saw pun telah mengingatkan umat Islam untuk memiliki tata krama dan etika. Dalam haditsnya, kita diingatkan untuk benar-benar berpikir matang pada apa yang akan kita ucapkan. Kita harus mempertimbangkan manfaat serta mudarat, keuntungan dan kerugian, serta apakah akan berdampak negatif atau positif. Dalam haditsnya Rasulullah bersabda: 

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Artinya: “Siapa pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia mengucapkan perkataan yang baik atau diam.” (HR Bukhari dan Muslim).

Lisan kita ibarat pisau yang bermanfaat jika digunakan untuk hal-hal yang baik. Namun sebaliknya akan membawa bencana jika digunakan dengan tidak bijak. Bukan hanya melukai diri sendiri, namun bisa melukai orang lain. Bukan hanya luka yang bisa sembuh dalam waktu pendek, namun luka dalam hati yang bisa saja terus bersemayam dalam hati. Rasulullah mengingatkan dalam haditsnya:

أَكْثَرُ خَطَايَا إِبْنِ آدَمَ فِي لِسَانِهِ

Artinya: “Mayoritas kesalahan anak Adam adalah pada lidahnya.” (HR. Thabrani).

Dengan penjelasan ini, mudah-mudahan kita senantiasa dianugerahi hati yang jernih yang terwujud dalam sikap dan perkataan lisan kita. Semoga Allah swt senantiasa menjaga lisan kita untuk tidak banyak berbicara hal-hal yang tidak penting. Semoga kita senantiasa bisa berinteraksi dengan orang-orang di sekitar kita dengan akhlak yang baik dan mulia sehingga kedamaian dan kebahagiaan akan senantiasa tercipta.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْن




 

 

الْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلَّهِ. أَشْهَدُ أنْ لآ إلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيّ بعدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ. اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ والقُرُوْنَ وَالزَّلاَزِلَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ

للَّهُمَّ ارْحَمْنَا بِالقُرْءَانِ. وَاجْعَلْهُ لَنَا إِمَامًا وَنُورًا وَهُدًا وَرَحْمَةً. اللَّهُمَّ ذَكِّرْنَا مِنْهُ مَا نَسِينَا. وَعَلِّمْنَا مِنْهُ مَا جَهِلْنَا. وَارْزُقْنَا تِلَاوَتَهُ ءَانَآءَ الَّيْلِ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ. وَاجْعَلْهُ لَنَا حُجَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

 

MENGHADAPI PEMILIHAN PILKADA MAKA INGATLAH NASEHAT 5 TOKOH DUNIA

 

 MENGHADAPI PEMILIHAN  PILKADA  MAKA INGATLAH NASEHAT 5 TOKOH DUNIA INI.

1. Ali bin Abi Thalib ra
“Kezhaliman akan terus ada, bukan karena banyaknya orang-orang jahat, tapi karena diamnya orang-orang baik.”

2. Syaikh Yusuf Qardhawi (Ketua Asosiasi Internasional Cendekiawan Muslim)

Setidaknya ada 3 (tiga) cara dalam mempertimbangkan pilihan:
* Jika semuanya baik, pilihlah yang paling banyak kebaikannya.
* Jika ada yang baik dan ada yang buruk, pilihlah yang baik.
* Jika semuanya buruk, pilihlah yang paling sedikit keburukannya.

3. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, MA. M. Phil. (Ketua MIUMI Pusat, putra Pendiri Pesantren Gontor)
"Jika anda tidak mau ikut pemilu karena kecewa dengan pemerintah & anggota DPR, atau parpol Islam. Itu hak anda. Tapi ingat jika anda & jutaan yang lain tidak ikut pemilu maka jutaan orang fasik, sekuler, liberal, atheis akan ikut pemilu untuk berkuasa dan menguasai kita. Niatlah berbuat baik meskipun hasilnya belum tentu sebaik yang engkau inginkan.”

4. Recep Toyyib Erdogan
 Jika orang Baik  tidak ikut terjun ke politik, maka para penjahatlah yang akan mengisinya.

5. Necmetti Erbakan
Muslim yang tidak peduli Politik akan di pimpin oleh Politikus yang tidak peduli kepada islam.

Jangan tidak ikut Pilkada  Kejahatan akan timbul tatkala orang baik semua pada DIAM.

Kado HGN 2024

 



 


HGN 2024

 

 









Allah Sembunyikan 3 Perkara dalam 3 Perkara

 

 

Allah Sembunyikan 3 Perkara dalam 3 Perkara

  

 الحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى الِه وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أَمَّا بَعْدُ: فَيَاأيُّهَا الإِخْوَان، أوْصُيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ،

Dalam kehidupan ini ada hal-hal yang tampak secara jelas sehingga setiap orang bisa menyikapinya dengan mudah. Demikian pula ada hal-hal yang tersembunyi sehingga tidak mudah menyikapinya. Jika Allah merahasiakan sesuatu, pasti Allah memiliki maksud tertentu tetapi dengan tujuan yang jelas. Menurut Ali Zainal Abidin bin Husein radhiallahu anhuma, Allah menyembunyikan tiga perkara dalam tiga perkara sebagaimana dikutip Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi al-Haddad dalam kitab Al-Fushul al-‘Ilmiyyah wal Ushul al-Hikamiyyah

إنَّ اللهَ خَبَّأَ ثَلَاثًا فِى ثَلَاثٍ : خَبَّأَ رِضَاهُ فِيْ طَاعَتِهِ فَلَاتَحْقِرُوا مِنْ طَاعَتِهِ شَيْئاً فَلَعَلَّ رِضَاهُ فِيْهِ، وَخَبَّأَ سُخْطَهُ فِيْ مَعْصِيَتِهِ فَلَا تَحْقِرُوْا مِنْ مَعْصِيَتِهِ شَيْئًا فَلَعَلَّ سُخْطَهَ فِيْهِ، وَخَبّأَ وِلَايَتَه فِي خَلْقِه فَلَا تَحقِرُوْا مِن عِبَادِهِ اَحدًا فَلَعَلهُ وَلِيُّ اللهِ

Artinya: “Sesungguhnya Allah SWT menyembunyikan tiga perkara dalam tiga perkara. Allah menyembunyikan ridha-Nya dalam amal ketaatan kepada-Nya, maka jangan remehkan sesuatu pun dari ketaatan kepada-Nya, mungkin di situlah letak ridha-Nya. Allah menyembunyikan murka-Nya dalam perbuatan maksiat, maka jangan meremehkan sesuatu dari maksiat kepada-Nya, mungkin di situlah letak murka-Nya. Allah menyembunyikan para wali-Nya di antara makhluk-Nya, maka jangan meremehkan siapa pun dari hamba-hamba-Nya, mungkan ia adalah wali-Nya.”

Pertama, Allah menyembunyikan ridha-Nya dalam amal ketaatan kepada-Nya. Perintah-perintah Allah banyak sekali jumlahnya. Dari yang banyak itu mungkin banyak pula yang telah kita laksanakan. Tetapi kita tidak tahu dari amal-amal ketaatan itu manakah yang mendapatkan ridha dari Allah karena Allah memang tidak memperlihatkan ridha-Nya atas amal-amal itu kepada hamba-hamba-Nya. 

Hal tersebut dimaksudkan agar hamba-hamba Allah tidak mudah merasa puas, lalu menyia-nyiakan kesempatan melakukan amal-amal kebaikan lainnya. Oleh karena itu, kita tidak boleh meremehkan suatu amal kebaikan baik yang berat maupun yang ringan, baik yang populer di mata masyarakat maupun yang tidak populer setiap kali ada kesempatan untuk melakukannya. Jangan-jangan Allah justru memberikan ridha-Nya atas amal yang kebanyakan orang menganggapnya remeh temeh. 

Dalam kaitan ini ada kisah yang sangat penting untuk menjadi rujukan berupa sebuah kisah mimpi yang sangat menarik, yakni kisah tentang bagaimana Imam al-Ghazali bisa masuk surga karena kebaikan yang sepele. Kisah itu sebagai berikut:

رُؤيَ الغَزَالِيُّ فِى النَّوْمِ فَقِيْلَ لَهُ: مَا فَعَلَ اللهُ بِكَ؟، فَقَالَ أَوْقَفَنِي بَيْنَ يَدَيْهِ، وَقَالَ لِي: بِمَ قَدَّمْتَ عَلَيَّ؟، فَصَرْتُ أذْكُرُ أَعْمَالِيْ، فَقَالَ: لِمَ أَقْبَلُهَا، وَإِنَّمَا قَبِلْتُ مِنْكَ ذَاتَ يَوْمٍ نَزَلَتْ ذُبَابَةٌ عَلَى مِدَادِ قَلَمِكَ لِتَشْرَبَ مِنْهُ وَأَنْتَ تَكْتُبُ فَتَرَكْتَ اْلكِتَابَةَ حَتَّى أَخَذَتْ حَظَّهَا رَحْمَةً بِهَا، ثُمَّ قَالَ تَعَالَى: اَمْضُوْا بِعَبْدِيْ إِلَى اْلجَنَّةِ.

Artinya: Dalam mimpi itu Imam al-Ghazali ditanya seseorang, “Bagaimana perlakuan Allah terhadap engkau? Beliau menjawab, “Allah SWT membawaku ke hadapan-Nya, lalu Allah berfirman kepadaku, “Lantaran apa Aku membawamu ke sisi-Ku? Aku pun menyebutkan berbagai perbuatanku. Dia berfirman, “Kami tidak menerimanya, sesungguhnya yang Kami terima darimu adalah pada suatu hari ada seekor lalat hinggap pada wadah tintamu untuk meminumnya, padahal kamu sedang menulis, lalu kamu menghentikan tulisanmu hingga seekor lalat itu itu selesai meminumnya, kamu lakukan hal itu karena kasihan terhadap lalat tersebut. Kemudian Allah memerintahkan, “Bawalah hamba-Ku ini ke surga.” (lihat Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi, Nashaihul ‘Ibad [Surabaya: Nurul Huda, tanpa tahun], hal. 3). 

Jadi kisah di atas menceritakan bahwa Hujjatul Islam Imam al-Ghazali masuk surga bukan karena kitab-kitab yang beliau tulis dalam jumlah sangat banyak, tetapi karena membiarkan seekor lalat masuk ke wadah tinta yang beliau gunakan untuk menulis kitab. Nyamuk itu bermaksud minum karena haus hingga ia puas dan terbang meninggalkan Imam al-Ghazali. 

Kedua, Allah menyembunyikan murka-Nya atas perbuatan maksiat yang dilakukan hamba-Nya dan bukannya langsung memberikan hukuman atau azab atas kemaksiatan itu. Setiap kemaksiatan menimbulkan murka Allah kepada pelakunya, namun Allah tidak memperlihatkan murka-Nya yang dapat dirasakan langsung oleh pelakunya. 

Oleh karena itu hendaknya kita tidak mengganggap enteng atas kemaksiatan yang telah kita lakukan betapa pun kecilnya sebab bisa jadi Allah telah sangat murka atas kemaksiatan itu. Hal ini maksudnya agar kita tidak meremehkannya. Apalagi kemaksiatan itu kemudian diikuti dengan kemaksiatan-kemaksiatan lain yang justru menambah murka Allah subhanhu wa ta’ala

Intinya adalah setiap kemaksiatan harus menjadi perhatian kita karena bisa jadi Allah sangat marah atas kemaksiatan itu. Oleh karena itu kita dianjurkan untuk banyak-banyak memohon ampun dengan memperbanyak istighfar agar Allah mengampuni dosa-dosa yang telah kita perbuat, diikuti dengan penyesalan dan bertobat. 

Ketiga, Allah menyembunyikan para wali-Nya di antara makhluk-Nya. Hal ini dimaksudkan agar kita tidak meremehkan siapa pun dari hamba-hamba-Nya karena mungkin ia adalah waliyullah. Dengan kata lain kita sesungguhnya tidak perlu mengorek-ngorek apakah seseorang adalah waliyullah atau bukan terutama jika upaya ini hanya akan membuat kita meremehkan orang itu setelah kita meyakini bahwa ia bukan seorang wali. 

Justru seharusnya ketika Allah sengaja merahasiakan para wali-Nya dari hamba-hamba-Nya, maka kita sebaiknya memiliki keyakinan bahwa setiap orang sebaiknya kita hormati sebab mereka memang pantas dihormati karena kemanusiaannya. Allah sendiri memuliakan mereka sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an sebagai berikut: 

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

Artinya: “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rejeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan, dengan kelebihan yang sempurna.” (QS. Al-Isra’: 70) 

Selain itu, agar kita tidak gampang meremehkan orang lain dan justru terdorong untuk menghormatinya, kita perlu meyakini bahwa setiap orang memiliki kelebihan masing-masing. Cara ini lebih menjamin keselamatan kita dari meremehkan orang lain. Sebuah pepatah bahasa Arab menyatakan: 

 لَا تَحْتَقِرْ مَنْ دُوْنَكَ لِكُلِّ شَيْئٍ مَزِيَّةٌ

Artinya: “Janganlah engkau meremehkan orang lain sebab segala sesuatu (atau setiap orang) memiliki kelebihannya sendiri (yang kita mungkin tidak memilikinya). 

Pepatah tersebut sejalan dengan firman Allah subhanahu wata'ala di dalam Al-Qur’an sebagai berikut: 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ


Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.” (QS. Al Hujurat: 11)

Allah sengaja merahasiakan tiga perkara dalam tiga perkara sebagaimana disebutkan di atas agar manusia bersikap hati-hati dan berbuat adil baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain. Kesemua ini tidak lain adalah demi kebaikan kita masing-masing baik di dunia maupun akhirat. 

جَعَلَنا اللهُ وَإيَّاكم مِنَ الفَائِزِين الآمِنِين، وَأدْخَلَنَا وإِيَّاكم فِي زُمْرَةِ عِبَادِهِ المُؤْمِنِيْنَ باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ وذِكْرِ الحَكِيْمِ. إنّهُ تَعاَلَى جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ

 

Penghasilan sebab Ghasab, Haramkah?

 

 

Penghasilan sebab Ghasab, Haramkah?

 

Menggunakan sesuatu tanpa izin termasuk dalam keumuman ayat tentang larangan memakan harta orang lain dengan batil. Allah Swt. berfirman:

 وَلَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ 

 Artinya, "Janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil," (Al-Baqarah [2]:188)

Dalam pandangan fiqih menguasai manfaat yang dimiliki orang lain secara zalim, menggunakan tanpa izin disebut dengan ghasab yang hukumnya haram. Hal ini sebagaimana dijelaskan Imam Zainuddin al-Malibari dalam Fathul Mu'in, [Beirut, Darul Ibnu Hazm, t.t: 281) sebagai berikut:

 فصل [في بيان أحكام الغصب] الغصب: استيلاء على حق غير ولو منفعة كإقامة من قعد بمسجد أو سوق بلا حق كجلوسه على فراش غيره وإن لم ينقله وإزعاجه عن داره وإن لم يدخلها وكركوب دابة غيره واستخدام عبده

 Artinya, "Penjelasan tentang Hukum Ghasab (perampasan). Ghasab adalah menguasai hak orang lain, meskipun berupa manfaat, seperti mengusir orang yang duduk di masjid atau pasar tanpa hak, atau duduk di atas tikar milik orang lain meskipun tidak memindahkannya, mengusir seseorang dari rumahnya meskipun ia tidak memasukinya, atau menunggangi hewan milik orang lain, dan memanfaatkan budaknya."

Konsekuensi perbuatan ghasab ini selain berdosa juga harus mengganti jika mempunyai nilai dan harga karena bukan didapatkan secara gratis, atau meminta penghalalan (istihlal) dari yang bersangkutan.

Selama jual beli yang dilakukan sesuai syariat, yaitu memenuhi rukun dan syaratnya, tidak menipu, tidak merugikan orang lain, serta komoditi yang ditransaksikan legal menurut syara' dan hukum negara, maka keuntungan yang didapatkannya adalah halal.

Dalam sebuah kasus tentang permasalahan seseorang yang meng-ghasab sebuah panah kemudian panahnya digunakan untuk berburu, maka hak milik hasil buruannya itu adalah pelaku ghasab tersebut. Hanya saja, pelaku ini wajib memberikan biaya penggunaan panah tersebut kepada pemiliknya. Berikut selengkapnya dijelaskan oleh Imam al-Baghawi dalam kitab at-Tahdzib fi Fiqhis Syafi'i, (Beirut, Darul Kutub Ilmiyah, 1997: VIII/27).

 ولو غصب رجل سهمًا، فاصطاد به: كان الصيد للغاصب، وكذلك: لو غصب شبكة، فنصبها، فتعلق بها صيد-: كان للغاصب، وعليه أجر مثل السهم، والشبكة للمالك

 Artinya, “Jika seseorang meng-ghasab sebuah panah, lalu berburu dengannya, maka hasil buruannya menjadi milik si peng-ghasab. Begitu pula jika seseorang meng-ghasab jaring, lalu memasangnya, dan mendapatkan tangkapan, maka hasil tangkapannya adalah milik si peng-ghasab. Namun, dia wajib membayar sewa atau biaya (ujrah mitsil) penggunaan panah dan jaring tersebut kepada pemiliknya."

Dapat disimpulkan bahwa penghasilan yang diperoleh dari jual beli online dengan sarana HP yang sistemnya di update dengan jaringan wifi ghasab adalah halal, selama jual beli yang dilakukan telah sesuai syariat, yakni memenuhi rukun dan syarat jual beli, tidak mengandung penipuan, serta komoditi yang ditansaksikan legal menurut syara' dan hukum Negara. Namun demikian, ia berkewajiban mengganti biaya penggunaan wifi yang digunakan tanpa izin atau meminta kehalalanya kepada pihak yang bersangkutan atau pemiliknya. Wallahu a'lam.

 

Hukum Gurauan Cerai

 

 

Hukum Gurauan Cerai

 

Sebaiknya seorang laki-laki yang beristri selalu menjaga lisannya dari kata-kata yang mengandung makna perceraian, meskipun dalam konteks bercanda. Karena Rasulullah saw bersabda:

 ثَلاثٌ جِدُّهُنَّ جِدٌّ وهَزْلُهُنَّ جِدٌّ: النِّكاحُ، والطَّلاقُ، والرَّجْعَةُ

Artinya, "Ada tiga hal yang seriusnya dihukumi serius, bercandanya pun dihukumi serius, yaitu: nikah, talak, dan rujuk". (HR At-Tirmidzi).

Berdasarkan hadits ini, kata 'seandainya' yang diucapkan seseorang yang menunjukkan bahwa pertanyaan tersebut hanya sebatas candaan, tetap dihukumi sama seperti ucapan yang serius.
 Sebab itu, sebaiknya jauhi candaan yang menyangkut talak. Berbeda dengan bercanda dengan mengisahkan dan memeragakan adegan talak, secara fiqih tidak dianggap sebagai talak.
(Zainuddin Al-Malibari, Fathul Mu'in, [Beirut: Dar Ibn Hazm, tt], halaman 507).
            Dalam hukum Islam shighat (ucapan) talak dibagi menjadi dua:

1.      Talak sharih (jelas), yaitu kalimat yang tidak memiliki kemungkinan makna lain selain talak. Contohnya seperti kalimat: "Aku ceraikan kamu" atau "Aku telah menjatuhkan talak pada istriku". Jika seorang suami mengucapkan sighat talak sharih, maka otomatis jatuh talak, meskipun tanpa disertai niat menceraikan istri.

2.       Talak kinayah (sindiran), yaitu kalimat yang memiliki kemungkinan makna lain selain talak. Contohnya seperti kalimat: "Aku telah berpisah dengan istriku". Kata 'berpisah' selain bisa dimaknai sebagai perceraian, bisa juga dimaknai sebagai terpisah secara fisik karena jarak yang jauh. Talak yang diucapkan dengan shighat kinayah tidak berdampak pada putusnya ikatan pernikahan kecuali jika disertai dengan niat menceraikan istri.

Dalam kitab Fathul Mu'in disebutkan: 

لو قال لوليها: زوّجها فمقر بالطلاق

Artinya, "Jika seorang laki-laki berkata kepada wali istrinya: "Nikahkanlah dia (istriku), maka laki-laki tersebut berarti telah mengakui (beriqrar) bahwa istrinya sudah dicerai olehnya." (Al-Malibari, 509).

Hal ini karena, dengan mempersilahkan wali istrinya untuk menikahkannya, artinya suami telah memutus ikatan pernikahan dengan istrinya. Karena salah satu syarat seorang perempuan halal dinikahi adalah tidak memiliki ikatan pernikahan dengan siapapun.

Kita juga perlu melihat kaidah bahasa sebagaimana penjelasan Imam As-Suyuthi berikut:

إنَّمَا يَتَجَاذَبُ الْوَضْعُ وَالْعُرْفُ فِي الْعَرَبِيِّ، أَمَّا الْأَعْجَمِيُّ فَيُعْتَبَر عُرْفُهُ قَطْعًا

Artinya, "Kontradiksi antara penggunaan makna asal dan makna yang berlaku secara umum hanya terjadi dalam bahasa Arab. Adapun bahasa selain Arab, yang dipandang adalah makna yang berlaku secara umum." (Al-Asybah wan Nazhair [Beirut, Darul Kutubil 'Ilmiyyah: 1983], halaman 95).

 

PERBEDAAN JUMLAH AYAT DI SETIAP SURAT DALAM MUSHAF QIRA'AT

 

 PERBEDAAN JUMLAH AYAT DI SETIAP SURAT DALAM MUSHAF QIRA'AT📚

Keterangan :
🟢 Nomor 1️⃣ = Mushaf Qira'at 'Ashim dengan riwayat Syu'bah dan Hafsh (6.236 Ayat) { MADZHAB AL-KUFI }

🔵 Nomor 2️⃣ = Mushaf Qira'at Nafi' dengan riwayat Qalun dan Warsy (6.214 Ayat) { MADZHAB AL-MADANI }

🟤Nomor 3️⃣ = Mushaf Qira'at Ibnu Katsir dengan riwayat Al-Bazzi dan Qunbul (6.220 Ayat) { MADZHAB AL-MAKKI }

NO     1️⃣          2️⃣ 3️⃣

   1. Al-Fatihah 7 | 7 |7
   2. Al-Baqarah 286 | 285 | 285
   3. Ali Imran 200 | 200 | 200
   4. An-Nisa 176 | 175 | 175
   5. Al-Maidah 120 | 122 | 122
   6. Al-An'am 165 | 167 | 167
   7. Al-A'raf 206 | 206 | 206
   8. Al-Anfal 75 | 76 | 76
   9. At-Taubah 129 | 130 | 130
   10. Yunus 109 | 109 | 109
   11. Hud 123 | 121 | 121
   12. Yusuf 111 | 111 | 111
   13. Ar-Ra'd 43 | 44 | 44
   14. Ibrahim 52 | 54 | 54 |
   15. Al-Hijr 99 | 99 | 99
   16. An-Nahl 128 | 128 | 128
   17. Al-Isra 111 | 110 | 110
   18. Al-Kahf 110 | 105 | 105
   19. Maryam 98 | 99 | 99
   20. Thaha 135 | 134 | 134
   21. Al-Anbiya 112 | 111 | 111
   22. Al-Hajj 78 | 76 | 77
   23. Al-Mu'minun 118 | 119 | 119
   24. An-Nur 64 | 62 | 62
   25. Al-Furqan 77 | 77 | 77
   26. Asy-Syu'ara 227 | 226 | 226
   27. An-Naml 93 | 95 | 95
   28. Al-Qashash 88 | 88 | 88
   29. Al-Ankabut 69 | 69 | 69
   30. Ar-Rum 60 | 59 | 59
   31. Luqman 34 | 33 | 33
   32. As-Sajdah 30 | 30 | 30
   33. Al-Ahzab 73 | 73 | 73
   34. Saba' 54 | 54 | 54
   35. Fathir 45 | 46 | 45
   36. Yasin 83 | 82 | 82
   37. Ash-Shaffat 182 | 182 | 182
   38. Shad 88 | 86 | 86
   39. Az-Zumar 75 | 72 | 72
   40. Ghafir 85 | 84 | 84
   41. Fushilat 54 | 53 | 53
   42. Asy-Syura 53 | 50 | 50
   43. Az-Zukhruf 89 | 89 | 89
   44. Ad-Dukhan 59 | 56 | 56
   45. Al-Jatsiyah 37 | 36 | 36
   46. Al-Ahqaf 35 | 34 | 34
   47. Muhammad 38 | 39 | 39
   48. Al-Fath 29 | 29 | 29
   49. Al-Hujurat 18 | 18 | 18
   50. Qaf 45 | 45 | 45
   51. Adz-Dzariyat 60 | 60 | 60
   52. Ath-Thur 49 | 47 | 47
   53. An-Najm 62 | 61 | 61
   54. Al-Qamar 55 | 55 | 55
   55. Ar-Rahman 78 | 77 | 77
   56. Al-Waqi'ah 96 | 99 | 99
   57. Al-Hadid 29 | 28 | 28
   58. Al-Mujadalah 22 | 21 | 21
   59. Al-Hasyr 24 | 24 | 24
   60. Al-Mumtahanah 13 | 13 | 13
   61. Ash-Shaf 14 | 14 | 14
   62. Al-Jumuah 11 | 11 | 11
   63. Al-Munafiqun 11 | 11 | 11
   64. At-Taghabun 18 | 18 | 18
   65. Ath-Thalaq 12 | 12 | 12
   66. At-Tahrim 12 | 12 | 12
   67. Al-Mulk 30 | 31 | 31
   68. Al-Qalam 52 | 52 | 52
   69. Al-Haqqah 52 | 52 | 52
   70. Al-Ma'arij 44 | 44 | 44
   71. Nuh 28 | 30 | 30
   72. Al-Jin 28 | 28 | 28
   73. Al-Muzzammil 20 | 18 | 20
   74. Al-Muddatsir 56 | 55 | 55
   75. Al-Qiyamah 40 | 39 | 39
   76. Al-Insan 31 | 31 | 31
   77. Al-Mursalat 50 | 50 | 50
   78. An-Naba' 40 | 40 | 41
   79. An-Nazi'at 46 | 45 | 45
   80. 'Abas 42 | 42 | 42
   81. At-Takwir 29 | 29 | 29
   82. Alinfithar 19 | 19 | 19
   83. Al-Muthaffifin 36 | 36 | 36
   84. Alinsyiqaq 25 | 25 | 25
   85. Al-Buruj 22 | 22 | 22
   86. Ath-Thariq 17 | 17 | 17
   87. Al-A'la 19 | 19 | 19
   88. Al-Ghasyiah 26 | 26 | 26
   89. Al-Fajr 30 | 32 | 32
   90. Al-Balad 20 | 20 | 20
   91. Asy-Syams 15 | 15 | 15
   92. Al-Lail 21 | 21 | 21
   93. Adh-Dhuha 11 | 11 | 11
   94. Al-Insyirah 8 | 8 | 8
   95. At-Tin 8 | 8 | 8
   96. Al-'Alaq 19 | 20 | 20
   97. Al-Qadr 5 | 5 | 6
   98. Al-Bayyinah 8 | 8 | 8
   99. Az-Zalzalah 8 | 9 | 9
100. Al-'Adiyat 11 | 11 | 11
   101. Al-Qari'ah 11 | 10 | 10
   102. At-Takatsur 8 | 8 | 8
   103. Al-'Ashr 3 | 3 | 3
   104. Al-Humazah 9 | 9 | 9
   105. Al-Fiil 5 | 5 | 5
   106. Quraisy 4 | 5 | 5
   107. Al-Ma'un 7 | 6 | 6
   108. Al-Kautsar 3 | 3 | 3
   109. Al-Kafirun 6 | 6 | 6
   110. An-Nashr 3 | 3 | 3
   111. Al-Masad 5 | 5 |
   112. Al-Ikhlas 4 | 4 | 5
   113. Al-Falaq 5 | 5 | 5
   114. An-Nas 6 | 6 | 7

SEJARAH RUPIAH

 

 

SEJARAH RUPIAH

Uang Rupiah telah menjadi bagian dari sejarah perjalanan Bangsa Indonesia. Sebelum Rupiah hadir, Pemerintah Indonesia mengeluarkan Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) sebagai mata uang Nasional pada tanggal 30 Oktober 1946. Berlakunya ORI sebagai simbol berakhirnya mata uang asing milik Pemerintah Hindia Belanda dan Jepang. Sejak saat itu, tanggal 30 Oktober diperingati sebagia Hari Oeang. 

Pencetakan dan Pengedaran ORI ke seluruh wilayah Indonesia dilakukan dengan penuh perjuangan ditengah berbagai keterbatasan dan agresi Belanda dan sekutunya. Keinginan besar Bangsa Indonesia untuk berdaulat dari mata uang asing mendorong lahirnya Oeang Repoeblik Indonesia Daerah (ORIDA) diberbagai penjuru Nusantara.

Melewati perjuangan panjang pada tanggal 17 Agustus 1950 bersama dengan dibubarkannya Republik Indonesia Serikat. Para pendiri bangsa mengukuhkan kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menetapkan Rupiah sebagai mata uang resmi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tonggak Sejarah Bank Indonesia sebagai Bank Sirkulasi sekaligus sebagai Bank Sentral Republik Indonesia dimulai pada tanggal 1 Juli 1953 melalui proses nasionalisasi De Javasche Bank. Untuk pertama kalinya uang Rupiah dikeluarkan oleh Bank Indonesia pada tahun 1953 berupa uang Rupiah kertas seri tokoh dan kebudayaan.

Diawal kemerdekaan, Bank Indonesia berperan strategis mengawal Pembangunan negara dan pembentukan karakter bangsa ditengah ketidakstabilan ekonomi. Seiring perkembangan negara guna mewujudkan stabilitas moneter diseluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, Undang-Undang No. 13 Tahun 1968 tentang Bank Sentral diterbitkan dan Bank Indonesia menjadi satu-satunya lembaga yang berwenang mengeluarkan dan mengedarkan uang Rupiah dalam berbagai pecahan.

Dengan menampilkan guratan budaya, sosok pahlawan serta kekayaan flora dan fauna. Selembar Rupiah mampu melukiskan indahnya kebhinekaan Indonesia. Goresan yang termuat pada setiap lembar Rupiah mewakili setiap masa perjalanan Indonesia serta perwujudan semangat persatuan dalam membentuk negara yang berdaulat dan bangsa yang mampu berdiri sendiri. Berbagai tantangan mampu dilalui, berbagai pencapaian telah diraih, berbagai asa akan digapai, bersama Rupiah yang hadir diseluruh negeri kita bangun optimism Menuju Indonesia Maju. Bersatu dalam Rupiah Berdaulat di NKRI.